Kasanga Festival 2026 Bergulir, 67 Karya Yowana Masuk Tahap Penilaian

 Kasanga Festival 2026 Bergulir, 67 Karya Yowana Masuk Tahap Penilaian


Denpasar, Karangaseminfo.com - Hari pertama penilaian lomba ogoh-ogoh dalam rangkaian Kasanga Festival 2026 Kota Denpasar digelar, Senin (23/2). Sebanyak 67 karya sekaa teruna (ST) dari Kecamatan Denpasar Timur dinilai lima dewan juri dengan standar yang telah disepakati bersama yowana se-Kota Denpasar.

Salah satu juri, Komang Indra Wirawan atau Komang Gases, menegaskan proses penilaian berlangsung objektif dan profesional. Ia menyebut terdapat dua aspek utama yang menjadi perhatian, yakni ideoplastis dan fisikoplastis.

“Ideoplastis menyangkut ide, konsep, dan gagasan. Yowana harus memahami betul cerita, sumber, dan literatur yang diangkat. Kalau konsepnya kuat dan jelas, barulah masuk ke fisikoplastis,” ujarnya di sela penilaian.

Aspek fisikoplastis mencakup bentuk, anatomi, pewarnaan, rancang bangun, kreativitas, hingga pemilihan bahan. Menurutnya, kematangan konsep sangat menentukan kekuatan visual dan keselarasan karya.

“Kalau dua unsur ini tidak digarap maksimal, tentu akan memengaruhi nilai akhir,” tegas Komang Gases.

Secara umum, kualitas pengerjaan dinilai terus meningkat, meski sebagian nuansa masih serupa dengan tahun-tahun sebelumnya. Dari total 223 peserta tahun ini, persaingan menuju 16 besar diprediksi berlangsung ketat.

“Generasi muda Denpasar terus belajar dan berinovasi. Ketersediaan bahan yang semakin mudah juga memengaruhi kualitas karya,” katanya.

Salah satu peserta, ST Eka Dharma Canti dari Banjar Yang Batu Kauh, Desa Dangin Puri Kelod, mengangkat konsep laut murka yang terinspirasi dari literatur Rongga Sanghara Bumi. Karya ini menyoroti dampak ketamakan manusia pada era Kali Yuga yang menyebabkan pencemaran laut.

Ketua ST Eka Dharma Canti, Komang Trisna Suhandana, menjelaskan ogoh-ogoh tersebut merepresentasikan ancaman akibat sampah dan eksploitasi berlebihan. “Sampah dari sungai bermuara ke laut dan menyebabkan kekotoran berkepanjangan. Menjaga keseimbangan laut adalah tanggung jawab manusia,” ujarnya.

Dalam narasinya, laut yang sejatinya sumber amerta dapat berubah menjadi wisya ketika kesuciannya tercemar. Murkanya Dewa Baruna dilambangkan melalui ombak besar, ikan ganas, dan racun sebagai simbol ketidakseimbangan alam.

Penilaian akan berlanjut hingga seluruh peserta rampung dinilai. Sebanyak 16 terbaik akan tampil pada puncak Kasanga Festival di Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung, 6–8 Maret mendatang. (pn)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama