Viral! Bau Tak Sedap di TPS3R Sempidi, Pengelola: Kami Sedang Berbenah

Viral! Bau Tak Sedap di TPS3R Sempidi, Pengelola: Kami Sedang Berbenah

Badung, Karangaseminfo.com – Keberadaan TPS3R di Desa Adat Sempidi, Mengwi, menuai sorotan setelah warga sekitar mengeluhkan bau menyengat yang muncul dalam beberapa hari terakhir. Keluhan tersebut ramai diperbincangkan di media sosial.

Warga menduga aroma tidak sedap itu berasal dari penumpukan sampah di dalam area pengolahan. Kondisi ini dinilai tidak sejalan dengan janji awal pemerintah yang memastikan fasilitas tersebut aman bagi lingkungan.

“Ini sudah berbeda dari janji Bupati sebelumnya, sebelum TPS dibangun,” ungkap seorang warga.

Pengelola TPS3R dari Hejoteck, Rina A Soma, menanggapi hal tersebut dengan menyebut adanya kesalahpahaman di masyarakat. Ia juga membantah adanya aktivitas pembakaran sampah seperti yang sempat beredar.

“Isu-isunya ada… dibilang ada pembakaran lah di sini, padahal tidak sama sekali. Tetapi kami meminta maaf jika ada yang kurang, kita sama-sama berbenah,” ujarnya.

Rina menjelaskan operasional TPS3R saat ini masih dalam masa transisi sejak mulai berjalan pada awal April 2026. Beberapa fasilitas penunjang belum sepenuhnya tersedia sehingga kinerja pengolahan belum maksimal.

“Kami minta waktu seharusnya itu tiga bulan ke depan karena nanti semua mesin sudah lengkap di sini,” katanya.

Manajer Operasional Hejoteck, Peter Noordiansah, menambahkan bahwa lonjakan sampah hingga 8 ton per hari dipengaruhi oleh banyaknya limbah non-harian, seperti barang bekas dari gudang warga.

Menurutnya, kondisi ini berbeda dari volume normal yang biasanya hanya 4–5 ton per hari.

“Sampah di sini kebanyakan bisa saya proses untuk daur ulang… bukan sampah rumah tangga harian,” jelasnya.

Pengelola juga telah melakukan penanganan bau dengan penyemprotan cairan khusus, sembari menyiapkan sistem pengolahan berbasis mesin.

Teknologi yang digunakan, seperti mesin pencacah dan pengering, diklaim telah memiliki izin serta uji emisi dari kementerian terkait.

“Tujuan kami di sini sampah harus bersih di tempat, habis di tempat,” tegas Peter.

Ia memastikan bahwa tumpukan sampah yang terlihat hanyalah bagian dari proses pemilahan sebelum diolah, bukan dibiarkan menumpuk tanpa penanganan.

Ke depan, pengelola akan menerapkan sistem pengangkutan bergiliran dan mendorong warga memilah sampah dari sumbernya agar proses pengolahan berjalan lebih cepat dan efisien. (pn)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama